Berpetualang memang menyenangkan, tapi sepertinya petualangan yang
berbau kematian, sebaiknya dijauhkan saja, seperti cerita berikut ini.
Cerita ini berkisahkan tentang 3 orang anak remaja yang tak sengaja
memasuki hutan yang sangat berbahaya. Mereka bernama Rio, Rizky, Dan
Veny. Di antara mereka bertiga Riolah yang paling berani, dan dia
mempunyai rasa keingintahuan yang sangat tinggi.
Dan rasa inilah yang membuat mereka masuk ke dalam petualangan ini.
Suatu hari, di sekolahan mereka, Mereka diberi tugas oleh guru IPA untuk
mencari tanaman obat yaitu Lombok Cengis. Akhirnya Mereka pun
mencarinya, dan pencarian ini bertempat di Kebun Kakeknya Rio. Lama
mereka mencari tetap saja tak ketemu, sengaja Rio tak bertanya pada
kakeknya, karena dia yakin bahwa dia bisa menemukannya. Kemudian Rio
menyerah, Rio pun menanyakan tanaman itu pada Kakeknya.
“Kakek, tanaman Lombok cengis ada tidak? tanaman ini untuk tugas sekolah kami kek.” Tanya Rio pada Kakeknya.
“Ada, tapi tidak di sini, adanya di tengah hutan. Oh, ya sudah biar Kakek saja yang cari.” Jawab Kakeknya.
“Oh, gak usah kek, kami bisa cari sendiri, Ayo teman-teman kita pergi.”
Ujar Rio. Rio dan teman-temannya langsung berlari. Karena mungkin langit
sudah hampir gelap.
“Hey Rio, nanti, jangan ke sana. Ah, dasar ceroboh. Ayah sama anak
sama saja.” Teriak Kakeknya. Tapi Rio tak menghiraukan itu. Lama mereka
berlari. Mereka pun kelelahan dan berjalan.
“Tenang saja teman-teman. Aku tahu kemana kita harus pergi.” Ujar Rio.
“Kamu yakin Yo, kita tak akan tersesat?” Tanya Veny.
“Yo, kita pulang saja, masih ada waktu besok, ini sudah sore.” Ajak Rizki. Tiba-tiba ada yang bergerak di semak-semak.
“Apa itu Yo?” Tanya Veny. Tak lama kemudian, Keluarlah 2 ekor anjing
liar dan menggeram, Sontak mereka kaget dan langsung berlari.
“teman-teman, naik ke atas pohon.” Teriak Rio dari belakang. Mereka pun
memanjat sebuah pohon, hampir saja kaki Rio tergigit, napas mereka
memburu kencang, terlihat anjing-anjing itu kecewa, dan pergi.
“Untung saja kita langsung lari, Haha.” Kata Rio tertawa kecil dengan napas memburu.
“Ini semua gara-gara kamu Yo, ngotot terus mau pergi mencari tanaman itu.” Ujar Rizki.
“Bagus, bagaimana kita pulang?” Kata Veny sambil melihat sekeliling hutan.
“Mudah saja.. Kita tinggal berjalan kembali.” Kata Rio dan langsung berdiri, Rio langsung ternganga melihat sekeliling.
“Hah… Oh tidak, Bagaimana bisa? Kita benar-benar tersesat.” Kata Rio.
“Langit mulai gelap, Kita harus bagaimana?” Tanya Rizki cemas.
“Tenang Ki, selama ada aku, kita akan baik-baik saja.” Jawab Rio.
“Ini, ambil senter ini, mungkin kita akan bermalam di sini” Kata Rio mengeluarkan senter dari tasnya, Tiba-tiba ada suara Elang.
“Apa itu?” tanya Rizki.
“Itu Elang.” jawab Rio.
“Apa? Elang? kita harus turun. Oh tidak, itu Elang Bondol, Elang ini
sangat besar…” Belum juga Rio selesai berbicara tiba-tiba Elang itu
menyerang. Untung cakarnya hanya mengenai daun.
“Ayo turun.” Ajak Rio. Rizki dan Veny pun turun, Rio terakhir dan kini,
tas Rio tercengkeram oleh Elang itu, Rio pun terbanting. Sementara itu
Rizki dan Veny sudah di bawah, terjadi keributan di atas pohon sana.
“Riooo, Apa yang terjadi?” Teriak Veny, dan akhirnya Rio dan Elang
itu terjatuh dari atas Pohon itu. Dia terluka di bagian tangan dan
wajah, sementara itu Elangnya terbunuh oleh Rio dengan ranting pohon
yang tajam. Tapi anehnya Rio tak merasakan rasa sakit saat dia terjatuh.
Veny langsung mengambil sesuatu dari tas Rio, Ternyata dia mengambil
obat merah, diobatinya luka Rio.
“Tahan ya.” Kata Veny.
“Aaaawww.” Teriak Rio, Tangannya pun diperban.
“Kau baik-baik saja kan?” Tanya Rizki.
“Ya, aku baik-baik saja.” Jawab Rio.
“Jadi bagaimana sekarang? kita naik lagi? atau bagaimana?” Tanya Rizki.
“Jangan, di atas juga berbahaya, sebaiknya kita cari tempat yang lain,
ambil senternya.” Jawab Rio. Mereka pun memulai perjalanan. Di tengah
perjalanan, mereka pun menemukan tanaman Lombok Cengis itu.
“Wah, ini dia Lombok Cengisnya.” Kata Rio. Tiba-tiba terdengar Lolong Srigala.
“Oh tidak, itu srigala, kita harus menjauh dari tempat ini. Cepat.” Ujar
Rio. Mereka pun berlari, lama mereka berlari. Terlihat di depan ada
rumah. Mereka pun menghampiri rumah itu.
Mereka tidak tahu, bahwa mereka sedang diikuti oleh Srigala itu. Saat
mereka berjalan ke rumah itu, tiba-tiba srigala itu pun menerkam Rio
dari belakang. Untung hanya tasnya yang diterkam. Rio pun berteriak.
“Ayaaah.” Mereka panik. Lalu Rizki pun mengambil sebuah balok dan
langsung memukuli Srigala itu, Srigala itu pun melepaskan terkamannya.
Sontak mereka langsung berlari dan masuk ke rumah itu. Srigala itu pun
melolong dan mencoba mendobrak pintunya.
Tak lama kemudian, Srigala itu pun pergi.
“Apa dia sudah pergi?” Tanya Rio sambil melihat dari jendela.
“Haduuuh, hampir saja aku terbunuh. Untung ada bangunan ini. Ya sudah kita bermalam di sini saja.” Ujar Rio.
“Ayo kita buat Api di sana.” Kata Veny. Mereka pun bermalam di rumah kosong itu.
Keesokan harinya, tepat pukul 06.30 Mereka terbangun, dan mengambil
beberapa barang untuk pertahan diri. Mereka pun ke luar dari rumah itu,
Rizki mengambil sebuah balok. Pada saat ia ke luar, tiba-tiba ada
srigala menyambarnya dari samping. Untung saja gigitan srigala itu
tertahan baloknya.
“Aaaah, Tolong!!!” teriak Rizki. Veny dan Rio pun memukuli srigala itu.
Mereka pun langsung berlari ke basemen, ternyata itu bukan Basemen, tapi
lorong bawah tanah, terpaksa mereka lari ke bawah sana dan menutupi
pintunya.
“Ki, apa kau baik-baik saja?” Tanya Rio.
“Ya, aku baik-baik saja.” Jawab Rizki.
“Apa ini? Dindingnya terbuat dari tanah. Ayo coba kita telusuri lorong
ini.” Ujar Veny. Mereka pun menelusuri lorong itu, semakin dalam, lorong
ini semakin menurun. Mereka pun terus berjalan, dan tiba-tiba mereka
terpeleset dan meluncur ke bawah.
“Waahh!!” Teriak mereka. Lama mereka meluncur, sampailah mereka di dasarnya.
“Aw, punggungku sakit semua.” Ujar Rizki.
“Waw, dimana kita? sepertinya kita ada di bawah tanah.” kata Rio.
“Heh, di sana ada sungai, ayo kita ke sana.” Ujar Veny langsung menghampiri sungai itu, Rio dan Rizki pun mengikutinya.
“Sepertinya sungai ini mengarah ke luar, ayo kita telusuri.” Ajak Veny,
mereka pun menelusuri sungai itu. Langkah demi langkah mereka berjalan,
tiba-tiba kaki Veny tergigit ular.
“Aaaww.” Teriak Veny.
“Ada Apa Veny? Oh tidak, itu ular, bunuh ular itu.” Tanya Rio dan
menyuruh Rizki untuk membunuhnya. Setelah membunuhnya Rio mengambil
kotak P3K. Lalu dia ingat, bahwa ada Lombok Cengis untuk mengobati
gigitan hewan berbisa. Dia pun langsung mengikat betis Veny untuk
mencegah racun itu menyebar, dan menghisap racun pada luka itu lalu
membuangnya, kemudian dia mengunyah lombok cengis itu, sesudah itu dia
oleskan tanaman itu pada luka Veny, dan memerbannya.
“Ini akan membantu.” Kata Rio.
“Terima kasih ya Yo.” Ujar Veny tersenyum.
“Ya sudah, ayo kita teruskan.” ajak Rio. Mereka pun meneruskan perjalanan, tak lama kemudian.
“Wah, aku melihat cahaya, ayo ke sana.” Kata Rizki, mereka pun
menghampiri cahaya itu. Ternyata mereka berada dalam gua, dan di
depannya ada tebing yang menjulang tinggi. Dan tebing ini ada air
terjunnya.
“Bagaimana kita bisa menaiki tebing ini?” Tanya Rizki.
“Hey, di sana ada jalan setapak, ayo kita ke sana, mungkin saja mengarah
ke atas.” Ujar Rio, mereka pun berjalan ke jalan setapak itu dan
jalannya menanjak, sepertinya jalan ini sengaja dibuat. Lama mereka
berjalan, sampailah ia di atas, dan ternyata ini sebuah sungai kecil dan
banyak pepohonan.
“Hey, sepertinya ada penduduk di sekitar sini.” Ujar Rio. Mereka pun
kembali berjalan menelusuri Sungai ini. Tak lama kemudian, di seberang
sungai ini ada beberapa orang sedang menyuci pakaian. Mereka pun
menyeberangi sungai ini, dan sampailah di seberang.
“Bu, ini di daerah mana ya?” Tanya Rio, ternyata mereka berada di
Kampung yang ternyata kampung ini jauh sekali dengan kampung mereka, dan
kampung ini adalah salah satu kampung teman mereka.
“Kenapa kalian bajunya kotor sekali, kalian memangnya sudah dari mana?” Tanya salah satu Ibu-ibu yang sedang mencuci itu.
“Kami tersesat di tengah hutan dari kemarin, kami terluka karena mencoba
menyelamatkan diri dari hewan buas bu, dan sampailah kami di sini.”
Jawab Rio.
“Hah, kalian memangnya dari mana?” Tanya ibu itu kembali, setelah
panjang lebar mereka mengobrol ternyata Ibu-ibu yang diajak mereka
ngobrol itu adalah Ibunya Selly, salah satu teman mereka.
Ibunya Selly merasa terkejut sekalian kagum mendengar cerita mereka,
dan mengajak mereka pulang ke rumahnya Selly. Sesampainya di sana,
ternyata dia sedang menanam sebuah tanaman, ternyata tanaman ini untuk
Praktek IPA besok Senin.
“Rio, Veny, Rizki. Ada apa kalian ke sini dan Apa yang terjadi dengan kalian?” Tanya Selly.
“Nanti saja ceritanya, ayo masuk dulu.” Kata Ibunya Selly. Ibunya Selly
pun mengajak mereka masuk. Sudah panjang lebar mereka bercerita, dan
akhirnya mereka pun disuguhi makan.
“Uh, Terima kasih bu, saya lapar sekali.” Ujar Rizki, mereka pun tertawa
bahagia. Akhirnya mereka bertiga pun pulang dengan selamat dan
meninggalkan bekas luka, sesampainya di sana mereka langsung
menceritakan semuanya pada Kakeknya Rio.
Selesai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar